Kamis, 03 Mei 2012

AUDIT TERHADAP SIKLUS PENGELUARAN PENGUJIAN SUBTANTIF TERHADAP AKTIVA TIDAK BERWUJUD


MAKALAH
AUDIT TERHADAP SIKLUS PENGELUARAN
PENGUJIAN SUBTANTIF TERHADAP
AKTIVA TIDAK BERWUJUD

Di susun oleh

RIANA NOVITA                          ERCIC009035


FAKULTAS EKONOMI AKUNTANSI
UNIVERSITAS JAMBI
2012



KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat  Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugai ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan laporan kerja praktek ini lebihlanjut, akan penulis terima dengan senang hati. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasihkepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas ini.
Akhirnya, tiada gading yang tak retak, meskipun dalam penyusunan makalah ini penulis telah mencurahkan semua kemampuan, namun penulis sangat menyadari bahwahasil penyusunan makalah ini jauh dari sempurna dikarenakan keterbatasan data danreferensi maupun kemampuan penulis. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran serta kritik yang membangun dari berbagai pihak.


                                                                    Jambi,   April  2012

                                                                    Penulis



DAFTAR ISI

Kata Pengantar
BAB I    Pendahuluan                                                                     1
BAB II  Kasus                                                                                8
BAB III Kesimpulan                                                                       10
Daftar pustaka
















DAFTAR PUSTAKA

Boynton,dkk. (2003). Modern Auditing. Jakarta : Erlangga.
Mulyadi. (2002). Auditing buku 1. Jakarta: Salemba Empat
Mulyadi. (2002). Auditing buku 2. Jakarta: Salemba Empat
IAI. (2001). Standar Profesional Akuntan Publik. Jakarta: Salemba Empat















BAB I
PENGUJIAN SUBTANTIF TERHADAP AKTIVA TIDAK BERWUJUD


1.1  Latar Belakang
Perusahaan seringkali mengeluarkan sumber daya untuk mendapatkan, mengembangkan, memelihara atau memperkuat sumber daya tidak berwujud, seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, desain dan implementasi sistem atau proses baru, lisensi, hak kekayaan intelektual, pengetahuan mengenai pasar dan merek dagang (termasuk merek produk/brand names). Contoh aset tidak berwujud yang dicakup dalam judul luas tersebut adalah : peranti lunak komputer, hak paten, hak cipta, film gambar hidup, daftar pelanggan, hak penguasaan hutan, kuota impor, waralaba, hubungan dengan pemasok atau pelanggan, kesetiaan pelanggan, hak pemasaran, dan pangsa pasar.
Dalam definisi aset tidak berwujud terdapat kriteria bahwa keteridentifikasian aset tidak berwujud harus dibedakan secara jelas dengan muhibah ( goodwill ). Muhibah ( goodwill ) yang timbul dari pengabungan usaha berbentuk akuisisi mencerminkan pembayaran yang dilakukan oleh pihak yang mengakuisisi dengan harapan akan memperoleh manfaat ekonomis di masa depan. Manfaat ekonomis di masa depan akan timbul dari sinergi antara aset yang diperoleh yang dapat diidentifikasi atau dari aset, yang secara individual, tidak memenuhi syarat untuk diakui dalam laporan keuangan walaupun yang mengakuisisi bersedia untuk membayar aset tersebut.

1.2 Pengertian Aktiva Tak Berwujud
Aktiva tak berwujud ( intangible assets ) adalah aktiva jangka panjang yang secara fisisk tidak bisa dinyatakan dan tidak untuk diperjualbelikan, tetapi digunakan dalam kegiatan perusahaan.
Aktiva tak berwujud mencerminkan hak istimewa atau posisi yang menguntungkan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan. Hak paten, hak cipta, franchises, goodwill adalah jenis-jenis aktiva tidak berwujud pada umumnya.
Menurut PSAK No. 19 ( IAI : 2007:P.8) , aset tidak berwujud adalah aset non moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif.

Aktiva tak berwujud didefinisikan sebagai aktiva modal yang tidak mempunyai wujud fisik dan nilainya tergantung pada hak dan keuntungan dari kepemilikan. Dimana banyak intagibles ini  berupa semacam hak monopoli kepada pemiliknya, seperti paten, copyright, franchise dll. Akuntansi untuk aktiva tak berwujud mempunyai masalah yang sama dengan akuntansi aktiva jangka panjang lainya, yaitu menentukan nilai terbawa awalnya, akuntansi untuk jumlah setelah akuisisi dalam kondisi bisnis normal ( amortisasi ) , dan akuntansi untuk jumlah jika nilainya turun secara substansial serta terus-menerus.
1.3 Aktiva tak berwujud mempunyai karakteristik penting, yaitu :
1. Kurang memiliki eksistensi fisik, tidak seperti aktiva berwujud seperti property, pabrik, dan peralatan, aktiva tak berwujud memperoleh nilai dari hak dan  keistimewaan atau privilege yang diberikan pada perusahaan yang menggunakannya.
2. Bukan merupakan instrument keuangan, aktiva seperti deposito bank, piutang usaha, dan investasi jangka panjang dalam obligasi serta saham tidak memiliki substansi fisik, tetapi tidak diklasifikasikan sebagai aktiva tak berwujud. Aktiva ini merupakan instrument keuangan dan menghasilkan nilainya dari hak untuk menerima kas atau ekuivalen kas di masa depan.
3. Bersifat jangka panjang dan menjadi subjek amortisasi, Aktiva tak berwujud menyediakan jasa selama periode bertahun tahun. Investasi dalam aktiva ini  biasanya dibebankan pada periode masa mendatang melalui beban amortisasi periodic.
1.4 Klasifikasi Aktiva Tak Berwujud
1. Cara akuisisi ( manner of acquisition ). Aktiva tak berwujud dapat diperoleh dengan cara membelinya dari entitas lain. Seperti membeli wiralaba atau paten dari orang lain. Cara lain untuk memperoleh aktiva tak berwujud adalah dengan cara membuatnya sendiri melalui operasi, contohnya adalah paten dan merek dagang.
2. Dapat diidentifikasi ( identifiability ). Beberapa kativa tak berwujud dapat diidentifikasi secara terpisah dari perusahaan lainya. Contohnya hak pataen, merek dagang , dan wiralaba. Aktiva tak berwujud lainya tidak dapat dipisahkan tetapi nilainya dapat diturunkan dari nilai aktiva yang berhubungan denganya. Contohnya adalah goodwill, yang nilainya dibedakan atas beberapa factor seperti loyalitas konsumen atas kualitas produk, dan bukan dari kepemilikan khusus.
3. Dapat dipertukarkan ( exchangeability ). Beberapa aktiva tak berwujud dapat diidentifikasi dapat dijual maupun dibeli, atau dengan kata lain dapat  dipertukarkan. Contohnya termasuk paten, merek dagang dan wiralaba. Aktiv atak berwujud lainya, yang dapat depertukarkan kecuali dengan menjual perusahaan itu juga .
Contohnya dalah biaya organisasi. Tidak ada pihak lain yang mau membeli biaya organisasi ini secara terpisah ( terlepas dari perusahaanya ). Goodwill adalah contoh aktiva tak berwujud yang tidak dapat diidentifikasi dan tidak dapat dipertukarkan. Goodwill hanya hanya akan memepunyai nilai jika dikombinasikan atau dihubungkan dengan aktiva lainya dan tidak dapat diperoleh kecuali dengan mengakuisisi aktiva lainya secara simultan.
4. Periode manfaat yang diharapkan ( period of expected benefit ). Beberapa aktiva tak berwujud, seperti biaya organisasi, diharapkan dapat memeberikan manfaat kepada perusahaan dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Sebagai contoh paten memeiliki umur hukum selama 17 tahun, dan periode manfaat leasehold yang dicantumkan dalam kontrak lease.
1.5 Prinsip Akuntansi Dasar untuk Aktiva tak berwujud
Akuntansi untuk aktiva tak berwujud melibatkan prinsip dan prosedur akuntansi serupa yang diaplikasikan untuk aktiva tak berwujud lainya, seperti properti, pabrik dan peralatan yaitu :
1.  Pada akuisisi menerapkan prinsip biaya.
2.  Selama periode penggunaan, menerapkan prinsip penandingan.
3. Pada disposisi, menerapkan prinsip pendapatan. Keuntungan atau kerugian yang diakui atas pelepasan sama dengan selisih antara pertimbangan yang diterima.

Mencatat Biaya Pembelian Aktiva Tak Berwujud
Sesuai dengan prinsip biaya, aktiva tak berwujud harus dicatat pada saat diakuisisi dengan biaya ekuivalen kas saat ini. Biaya ini termasuk harga beli, biaya transfer dan hukum, dan setiap pengeluaran lainya yang berkaitan dengan akuisisi. Biaya akuisisi merupakan biaya pasar saat ini dari semua penukar yang diserahkan atau dari aktiva yang diterima, mana yang lebih dapat ditentukan.
Perlakuan akuntansi untuk berbagai jenis aktiva tak berwujud
Cara Akuisisi
Jenis Pembelian Dibuat secara internal
1. Aktiva tak Berwujud
yang dapat diidentifikasi
secara terpisah ( hak paten,
merek dagang, dan biaya
organisasi )
1.Di kapaitalisasikan pada
biaya akuisisi.
2. Diamortisasi selama umur
hukum atau estimasi masa
manfaat mana yang lebih
singkat dengan umur
maksimum 40 tahun
1. Dibebankan atau dikapitalisasi
tergantung pada aktiva tak
berwujud tertentu.
2. Jika dikapitalisasi, akan di
amortisasi sebagai aktiva tak
berwujud yang dibeli.
2.Aktiva tak berwujud yang
tidak dapat diidentifikasi
secara terpisah ( goodwill )
1. Dibebankan pada saat
terjadinya.
2. Tidak tersedia pilihan untuk
pengkapitalisasian, sehingga
tidak akan ada amortisasi
Mencatat Biaya Aktiva Tak Berwujud yang Dibuat secara Internal.
Kadang kala perusahaan membuat sendiri aktiva tak berwujud, seperti paten. Hanya biaya yang
secara spesifik dapat diidentifikasi dari penciptaan aktiva tak berwujud tersebut hanya akan
diidentifikasi. Jadi, walaupun perusahaan telah mengeluarkan biaya penelitian yang sangat besar untuk
membentuk hal yang dipatenkan, namun hanya biaya untuk mendapatkan paten tersebut yang
dikapitalisasi sebagai aktiva. Karena kendala ini, biaya yang dikapitalisasi untuk aktiva tak berwujud yang
dibuat secara internal mungkin tidak mencerminkan nilainya, sedangkan biaya yang dikapitalisasi untuk
aktiva tak berwujud yang dibeli melalui transaksi yang wajar diasumsikan mencermikan nilainya.
Amortisasi Biaya Aktiva Tak Berwujud
Beberapa fakor yang harus dipertimbangkan dalam mengestimasi umur aktiva tak berwujud :
1. Ketentuan hukum, peraturan, atau kontraktual yang dapat membatasi umur manfaat
maksimum.
2. Ketentuan untuk pembaruan ( renewal ) atau perpanjangan ( extension ) yang dpat mengubah
batas umur masa manfaat aktiva tersebut.
3. Pengaruh keusangan, permintaan, dan factor ekonomis lainya yang dapat mengurangi umur
manfaat.
4. Perkiraan umur pelayanan ( service life ) dari seorang atau kelompok pegawai.
5. Tindakan yang diharapkan dilakukan pesaing dan pihak lainya yang dapat membatasi
keunggulan kompetitif yang sudah ada.
6. Umur manfaat yang tidak terbatas dan masa manfaat yang tidak dapat diproyeksikan dengan
layak.
7. Apakah aktiva tak berwujud itu terdiri dari berbagai factor individual dengan umur manfaat
efektif yang bervariasi.
Menurut sifatnya itu, maka aktiva tak berwujud jarang mempunyai nilai residu. Biaya aktiva tak
berwujud yang tidak memiliki masa umur manfaat yang dapat ditetntukan atau umur hukum tidak
terbatas juga harus diamortisasi berdasarkan estimasi umur manfaatnya.
Penurunan Nilai Aktiva Tak Berwujud
Jika jumlah yang tidak didiskontokan atas arus kas masuk yang diharapkan dari penggunaan aktiva tak
berwujud yang dapat diidentifikasi lebih kecil dari nilai buku yang belum diamortisasikan, maka aktiva
tak berwujud disesuaikan ke nilai wajarnya. Kerugian penurunan ini langsung diakui sebesar perbedaan
antara nilai buku dan nilai wajar. Niali buku aktiva yang telah direvisi akan diamortisasi selama sisa umur
manfaat aktiva tersebut, tetapi periode amortisasi tidak lebih dari 40 tahun.
Pelepasan Aktiva Tak Berwujud
Ketika sebuah aktiva tak berwujud dijual, dipertukarkan, atau dilepaskan, biaya yang belum diamortisasi
harus dihilangkan dari akun keuntungan atau kerugian pelepasan diakui dan dicatat. Keuntungan atau
kerugian adalah sama dengan perbedaan antara hasil bersih dari pelepasan dan biaya yang belum
diamortisasi.
Aktiva Tak Berwujud yang dapat dipertukarkan
Aktiva Tak Berwujud yang dapat dipertukarkan adalah adalah aktiva tak berwujud yang dapat
diidentifikasi sebagian dari aktiva lainya dan dapat dijual secara terpisah. Contohnya : mencangkup hak
paten, hak cipta, merek dagang, dan waralaba ( tetapi bukan biaya organisasi )
Paten
Paten adalah sebuah hak khusus yang diakui secara hukum dan terdaftar Di Kantor Hak Paten Amerika
Serikat. Hak tersebut membuat pemegangnya dapat menggunakan, menjual, dan mengendalikan
barang-barang, proses, atau kegiatan yang tercangkup dalam paten tanpa adanya pengaruh atau
gangguan dari luar. Pendaftaran Paten di Kantor Paten tidak menjamin adanya perlindungan. Sebuak
paten tidak akan menjadi hak khusus, kecuali bila paten tersebut dapat dimenangkan di pengadilan, jadi
ada kesepakatan umum bahwa biaya untuk memepertahankan paten dipengadilan harus dikapitalisasi
sebagai bagian dari biaya paten. Jika tuntutan tidak dapat dimenangkan, maka biaya hukum dan biaya
paten yang belum diamortisasi harus dihapus. Kerugian penurunan niali ini harus didebet untuk setiap
jumlah yang diharuskan. Paten memiliki umur hukum selama 17 tahun, walaupun umur paten biasanya
lebih pendek karena kemajuan teknologi dapat menyebabkan produk kehilangan keunggulan kompetitif
dengan cepat.
Hak Cipta
Hak Cipta adalah sebuah bentuk perlindungan hukum bagi para penulis literatur, musisi, artistic, dan
pekerjaan sejenis. Pemilik hak cipta memiliki hak ekslusif seperti hak mencetak, mencetak ulang,
menyalin pekerjaan, menjual atau mendistribusikan salainan itu, dan untuk mengerjakan atau mencatat
pekerjaan. Undang-undang hak cipta tahun 1978 melindungi umur hak cipta itu selama umur penulis
ditambah 50 tahun. Hak cipta dapat dijual atau secara kontrakual diserahkan kepihak lainya. Biaya hak
cipta diukur sesuai dengan prinsip biaya. Jika sebuah hak cipta tidak memiliki umur ekonomis untuk
keseluruhan umur hukumnya, maka biaya hak cipta harus diamortisasi selama peride diharapkan
menghasilkan pendapatan. Hak cipta tidak boleh diamortisasi melebihi sisa umur hukumnya atau 40
tahun, mana yang lebih singkat.
Merek Dagang Dan Nama Dagang
Merek Dagang ( seperti lambang ‘busur emas’ Mcdonald ) dan Coca-cola adalah nama symbol atau
identitas lain yang membedakan perusahaan produk, jasa. Semuanya dapat didaftarkan ke Kantor Paten
di Amerika untuk memperjelas kepemilikan atau perlindungan hukum. Merek dagang dan anam dagang
yang telah diperbaharui setelah 20 tahun, yang akan menambah umurnya manjadi tidak terbatas.
Jumlah ekuivalen yang dibayarkan untuk membeli merek dagang akan dikapitalisasi. Biaya yang secara
langsung terjadi dalam pengembangan, perlindungan , perluasan, pendaftaran, atau mempertahankan
merek dagang harus dikapitalisasi dan diamortisasi selama umur manfaat merek dagang itu atau selama
40 tahun, mana yang lebih singkat.
Waralaba
Suatu waralaba (franchise) adalah perjanjian kontraktual dimana pemilik waralaba (franchisor)
memberikan hak kepada pemegang waralaba (franchise) untuk menjual produk atau jasa tertentu,
untuk menggunakan merek dagang atau nama dagang tertentu, atau melakukan fungsi fungsi tertentu,
biasanya didaerah geografis yang telah ditentukan.
Franchisor, yang telah mengembangkan suatu konsep atau produk yang unik melindungi konsep atau
produknya dengan paten, hak cipta, merek dagang, atau nama dagang. Franchise memperoleh hak
untuk memanfaatkan ide ide atau produk franchisor dengan menandatangani perjanjian waralaba.
Jenis waralaba lainnya adalah perjanjian yang biasa dilakukan oleh pemerintah kota dan penggunaan
property public oleh suatu perusahaan bisnis. Contohnya penggunaan saluran telepon untuk tv kabel
atau penggunaan jalan raya untuk lintasan bis. Hak pengoperasian seperti itu diperoleh melalui
perjanjian dengan unit atau lembaga pemerintah, yang sering kali disebut sebagai lisensi (licenses) atau
ijin.
Perbaikan Leasehold
Lease merupakan hal yang diberikan oleh salah satu pihak kep pihak kedua untuk menggunakan suatu
properti, pabrik atau peralatan, yang umumnya untuk jangka waktu tertentu. Dalam keadaan tertentu,
lease dikapitalisasi sebagai aktiva oleh pihak yang menerima hak untuk menggunakan property, dan
pada keadaan lainya, dan pada keadaan lainya lease tidak dikapitalisasikan












BAB I
PENDAHULUAN
PENGUJIAN SUBTANTIF TERHADAP AKTIVA TIDAK BERWUJUD
A.    MASALAH AKTIVA TIDAK BERWUJUD
 1.       Definisi Aktiva Tidak Berwujud
Aktiva tak berwujud ( intangible assets ) adalah aktiva jangka panjang yang secara fisisk tidak bisa dinyatakan dan tidak untuk diperjualbelikan, tetapi digunakan dalam kegiatan perusahaan. Aktiva tak berwujud mencerminkan hak istimewa atau posisi yang menguntungkan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan. Hak paten, hak cipta, franchises, goodwill adalah jenis-jenis aktiva tidak berwujud pada umumnya.
Menurut PSAK No. 19 ( IAI : 2007:P.8) , aset tidak berwujud adalah aset non moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif. Perusahaan seringkali mengeluarkan sumber daya untuk mendapatkan, mengembangkan, memelihara atau memperkuat sumber daya tidak berwujud, seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, desain dan implementasi sistem atau proses baru, lisensi, hak kekayaan intelektual, pengetahuan mengenai pasar dan merek dagang (termasuk merek produk/brand names).
Contoh aset tidak berwujud yang dicakup dalam judul luas tersebut adalah : peranti lunak komputer, hak paten, hak cipta, film gambar hidup, daftar pelanggan, hak penguasaan hutan, kuota impor, waralaba, hubungan dengan pemasok atau pelanggan, kesetiaan pelanggan, hak pemasaran, dan pangsa pasar. Dalam definisi aset tidak berwujud terdapat kriteria bahwa keteridentifikasian aset tidak berwujud harus dibedakan secara jelas dengan muhibah ( goodwill ).
Muhibah ( goodwill ) yang timbul dari pengabungan usaha berbentuk akuisisi mencerminkan pembayaran yang dilakukan oleh pihak yang mengakuisisi dengan harapan akan memperoleh manfaat ekonomis di masa depan. Manfaat ekonomis di masa depan akan timbul dari sinergi antara aset yang diperoleh yang dapat diidentifikasi atau dari aset, yang secara individual, tidak memenuhi syarat untuk diakui dalam laporan keuangan walaupun yang mengakuisisi bersedia untuk membayar aset tersebut.
 2.        Manfaat Ekonomis Masa Depan
Manfaat ekonomis masa depan yang timbul dari aset tidak berwujud dapat mencakup pendapatan dari penjualan barang atau jasa, penghematan biaya,  atau manfaat lain yang berasal dari penggunaan aset tersebut oleh perusahaan. Misalnya penggunaan hak kekayaan intelektual dalam suatu proses produksi tidak meningkatkan pendapatan masa depan, tetapi menekan biaya produksi.

 B  KARAKTERISTIK
Aktiva tak berwujud memiliki tiga karakteristik utama :
1.    Kurang memiliki eksistensi fisik
Tidak seperti aktiva berwujud seperti property, pabrik dan perlatan, aktiva tidak berwujud memperoleh nilai dari hak dan keistimewaan atau privilege yang di berikan kepada perusahaan yang menggunakannya.
2.    Bukan merupakan Instrumen Keuangan
Aktiva seperti deposito bank, piutang usaha dan investasi jangka panjang dalam obligasi serta saham tidak memiliki substansi fisik, tetapi tidak diklasifikasikan sebagai aktiva tak berwujud. Aktiva ini merupakan insrtumen keuangan dan menghasilkan nilainya dari hak ( klaim ) untuk menerima kas atau ekuivalen kas di masa depan.
3.    Bersifat Jangka Panjang dan menjadi Subjek Amortisasi
Aktiva tak berwujud menyediakan jasa selama periode bertahun – tahun. Investasi dalam aktiva ini biasanya di bebankan pada periode masa mendatang melalui beban amortisasi periodic.

Aktiva tak berwujud ( Intangible Assets ) di bagi lagi berdasarkan karakteristik berikut :

1.    Dapat di identifikasikan
2.    Cara perolehan
3.    Periode manfaat yang di harapkan
4.    Terpisah dari perusahaan secara keseluruhan


 PENILAIAN
Harga Perolehan Aktiva Tidak Berwujud
Harga perolehan aktiva tidak berwujud adalah semua pengeluaran yang dilakukan untuk memperoleh aktiva tersebut. Aktiva tidak berwujud dicatat dalam perkiraan sebesar harga perolehannya. Besar harga perolehan tergantung dari cara memperoleh aktiva tidak berwujud tersebut.
Bila aktiva tidak berwujud diperoleh dari pembelian, maka besarnya harga perolehannya adalah sejumlah uang yang dikeluarkan pada saat pembelian. Sedangkan bila diperoleh dari pertukaran dengan aktiva lain, harga perolehannya didasarkan atas harga jual ( harga pasar ) dari aktiva yang dipakai untuk penukar. Bila aktiva tidak berwujud diperoleh tanpa pengeluaran apapun, maka aktiva tersebut tidak dinilai harga perolehannya. Aktiva tidak berwujud yang demikian tidak boleh disajikan dalam neraca.
                           
                            Perolehan Terpisah
                            Jika suatu aset tidak berwujud diperoleh secara terpisah, biaya aset tidak berwujud biasanya dapat diukur secara andal. Biaya perolehan suatu aset tidak berwujud terdiri atas harga beli, termasuk bea masuk (impor), pajak yang sifatnya tidak dapat direstitusi (nonrefundable) dan semua pengeluaran yang dapat dikaitkan langsung dalam mempersiapkan aset tersebut sehingga siap untuk digunakan sesuai dengan tujuannya. Pengeluaran yang dapat dikaitkan secara langsung, misalnya, imbalan profesional konsultan hukum. Apabila ada diskonto atau rabat, maka diskonto atau rabat itu mengurangi biaya perolehan aset.

Pertukaran Aset
                            Suatu aset tidak berwujud mungkin diperoleh melalui pertukaran atau tukar tambah dengan aset tidak berwujud yang tidak sejenis atau dengan aset lainnya. Biaya perolehan aset tidak berwujud tersebut diukur sebesar nilai wajar aset yang diterima, yang sama dengan nilai wajar aset yang diserahkan, setelah diperhitungkan dengan jumlah uang tunai atau setara kas yang diserahkan.

Aktiva Tak Berwujud yang dibeli
Jika aktiva tidak berwujud di peroleh dengan saham atau di tukarkan dengan aktiva lain , maka biaya aktiva tidak berwujud adalah nilai pasar wajar dari pertimbanhan yang di berikan / nilai pasar wajar aktiva tidak berwujud yang diterima , mana yang memiliki bukti lebih jelas. Apabila aktiva tidak berwujud digabungkan dengan aktiva berwujud , maka biayanya dialokasikan berdasarkan nilai pasar wajar / nilai jual relatif.

Aktiva Tak Berwujud yang di buat secara Internal.
Biaya yang terjadi secara internal untuk menciptakan aktiva tak berwujud dibebankan pada saat biaya itu di keluarkan.

                                      Cara Perolehan
Jenis Aktiva Tak Berwujud             Dibeli                 Dibuat secara Internal                                        
Aktiva Tak Berwujud yang         Dikapitalisasi            Dibebankan, kecuali  
Dapat Diidentifikasikan                                               biaya tertentu.                                  
Secara khusus.
Aktiva Tak Berwujud                Dikapitalisasi.            Dibebankan.
Jenis Goodwill.

                            Tahap Riset
                            Perusahaan tidak boleh mengakui aset tidak berwujud yang timbul dari riset ( atau dari tahap riset pada suatu proyek internal ). Pengeluaran untuk riset ( atau tahap riset pada suatu proyek internal ) diakui sebagai beban pada saat terjadinya.
                            Contoh-contoh kegiatan riset adalah :
a)    Kegiatan yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan baru
b)    Pencarian, evaluasi, dan seleksi penerapan temuan riset atau pengetahuan lainnya,
c)     Pencarian altenatif bahan baku, peralatan, produk, proses, sistem, atau jasa, dan
d)    Perumusan, desain, evaluasi, dan seleksi berbagai alternatif kemungkinan bahan baku, peralatan, produk, proses, sistem, atau jasa.

Merek, daftar pelanggan yang dihasilkan secara internal, dan hal-hal sejenis yang substansinya sama tidak boleh diakui sebagai aset tidak berwujud.
Pernyataan ini mengandung pandangan bahwa pengeluaran dalam rangka menghasilkan merek, daftar pelanggan yang dihasilkan secara intern, dan hal-hal sejenis yang substansinya sama tidak dapat dibedakan dengan biaya untuk mengembangkan usaha secara keseluruhan. Oleh karena itu, hal-hal tersebut tidak diakui sebagai asset tidak berwujud.
                           
                            Pengakuan Beban
Pengeluaran untuk suatu pos aktiva tidak berwujud diakui sebagai suatu beban pada saat terjadinya, kecuali :
a.                Pengeluaran itu merupakan bagian dari biaya perolehan aktiva tidak berwujud yang memenuhi criteria pengakuan
b.                Pos tersebut diperoleh melalui suatu penggabungan usaha yang berbentuk akuisisi dan tidak dapat diakui sebagai aktiva tidak berwujud. Apabila demikian halnya, maka pengeluaran tersebut ( yang termasuk dalam biaya perolehan akuisisi ) merupakan bagian dari muhibah ( goodwill ) atau muhibah negative pada tanggal akuisisi.

Beban Masa Lalu Tidak Diakui sebagai Aktiva
Pengeluaran atas unsur tidak berwujud yang awalnya diakui oleh perusahaan sebagai beban dalam laporan keuangan tahunan atau laporan keuangan interim periode sebelumnya tidak boleh diakui sebagai bagian dari harga perolehan aktiva tidak berwujud di kemudian hari.

Pengeluaran Setelah Perolehan.
Pengeluaran setelah aktiva tidak berwujud diperoleh diakui sebagai beban pada saat terjadinya pengeluaran, kecuali :
a.    Pengeluaran tersebut besar kemungkinannya akan meningkatkan manfaat ekonomis masa depan sehingga menjadi lebih besar daripada standar kinerja yang diperkirakan semula.
b.    Pengeluaran tersebut dapat diukur dan dikaitkan dengan aktiva secara andal.
Jika persyaratan-persyaratan di atas dipenuhi, maka pengeluaran setelah perolehan harus ditambahkan kepada biaya perolehan aktiva tidak berwujud.

              Pengeluaran setelah aktiva tidak berwujud diperoleh ( pengeluaran setelah perolehan ) diakui sebagai beban jika pengeluaran tersebut dibutuhkan untuk memelihara aktiva agar dapat beroperasi pada standar kinerja yang diperkirakan semula.

Ø       Amortisasi Aktiva Tak Berwujud
Alokasi periodik atas biaya atau harga perolehan dari aktiva tidak berwujud disebut amortisasi. Amortisasi adalah alokasi harga perolehan aktiva tidak berwujud untuk dibebankan sebagai beban tiap tahun ( tiap periode ) sesuai dengan umur aktiva yang bersangkutan.
Jumlah yang dapat diamortisasi dari aset tidak berwujud harus dialokasikan secara sistematis berdasarkan perkiraan terbaik dari masa manfaatnya. Pada umumnya masa manfaat suatu aset tidak berwujud tidak akan melebihi 20 tahun sejak tanggal aset siap digunakan. Amortisasi harus mulai dihitung saat aset  siap untuk digunakan.
Amortisasi aktiva tidak berwujud harus dilakukan sedemikian rupa sehingga pembebanan biaya dapat dilakukan secara sistematis selama masa manfaatnya. Untuk aktiva tidak berwujud yang dikelompokkan sebagai aktiva yang masa kegunaannya tidak  terbatas, amortisasinya dapat dilakukan secara sistematis berdasarkan pertimbangan yang layak.
Apabila dalam kenyataannya aktiva tidak berwujud tersebut memiliki masa kegunaan yang berbeda dengan yang diperkirakan semula, maka dapat dilakukan koreksi atas jumlah amortisasi masa berikutnya. Apabila dalam kenyataannya aktiva tidak berwujud tersebut sudah tidak ada manfaatnya lagi, maka lebih baik dihapuskan sekaligus.
Amortisasi aktiva tidak berwujud dilakukan dengan mendebit akun beban amortisasi aktiva yang bersangkutan dan mengkredit langsung pada akun aktiva yang bersangkutan.             
Jatuh tempo aktiva tak berwujud disebut amortisasi. Factor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan masa manfaat adalah :
1.    Ketentuan hukum, peraturan atau kontraktual.
2.    Ketentuan untuk pembaruan, atau perpanjangan.
3.    Pengaruh keusangan, permintaan, persaingan, dan factor – factor ekonomi lainnya.
4.    Masa manfaat dapat parallel dengan ekspektasi umur pelayanan dari pribadi / kelompok karyawan.
5.    Tindakan yang diharapkan dari pesaing dan yang lain dapat membatasi keunggulan kompetitif.
6.    masa manfaat yang tampaknya tidak terbatas pada kenyataanya dapat menjadi tidak pasti dan manfaatnya tidak dapat diproyeksikan secara layak.
7.    Suatu aktiva tak berwujud dapat terdiri dari gabungan banyak factor individual dengan umur efektif yang bervariasi.
Aktiva tak berwujud harus di amortisasikan selama periode yang tidak melebihi 40 tahun. Aktiva tak berwujud yang diperoleh dari perusahaan lain ( biasanya goodwill ) tidak boleh dihapus pada saat perolehan.

Menilik sejarah pesatnya perkembangan teknologi, piranti lunak computer, dan banyak aktiva tidak berwujud lainnya rentan terhadap keusangan teknologi. Oleh karena itu, masa manfaat aktiva tidak berwujud cenderung pendek.

              Metode Amortisasi
              Metode amortisasi harus mencerminkan pola konsumsi manfaat ekonomis oleh perusahaan. Jika pola tersebut tidak dapat ditentukan secara andal, maka harus digunakan metode garis lurus. Biaya amortisasi setiap periode harus diakui sebagai beban kecuali PSAK lainnya mengizinkan atau mengharuskannya untuk dimasukkan ke dalam nilai tercatat aktiva lain.
              Terdapat berbagai metode amortisasi untuk mengalokasi jumlah yang dapat diamortisasi dari suatu aktiva atas dasar yang sistematis sepajang masa manfaatnya. Metode-metode ini meliputi metode garis lurus, metode saldo menurun, dan jumlah unit produksi.
              Amortisasi biasanya diakui sebagai beban. Namun kadang-kadang, manfaat ekonomis yang terkandung dalam suatu aktiva diserap oleh perusahaan untuk menghasilkan aktiva lainnya dan tidak menimbulkan beban. Dalam hal demikian, beban amortisasi merupakan bagian dari harga pokok aktiva lain tersebut dan dimasukkan ke dalam nilai tercatat tercatatnya. Misalnya, amortisasi aktiva tidak berwujud yang digunakan dalam proses produksi dimasukkan ke dalam nilai tercatat persediaan.

Nilai Sisa
Nilai sisa suatu aktiva tidak berwujud seharusnya diasumsikan sama dengan nol, kecuali :
a.                Ada komitmen dari pihak ketiga untuk membeli aktiva tersebut pada akhir masa manfaatnya, atau
b.                Ada pasar aktif bagi aktiva tersebut dan :
1)    Nilai sisa aktiva dapat ditentukan dengan mengacu pada harga yang berlaku di pasar tersebut.
2)    Terdapat kemungkinan yang cukup besar bahwa pasar yang aktif tersebut akan tetap ada pada akhir masa manfaat aktiva.

              Contoh :
a.                Perusahaan membeli hak paten sebesar Rp 100.000.000. Masa manfaat adalah 17 tahun dan telah dikeluarkan 7 tahun yang lalu sebelum tanggal pembelian. Masa manfaat yang tersisa adalah 10 tahun ( 17 tahun – 7 tahun ), maka :
Amortisasi per tahun = Rp 100.000.000 : 10 tahun
                                               = Rp 10.000.000

Ayat Jurnal yang perlu dibuat pada akhir tahun :

Beban Amortisasi                            Rp 10.000.000
              Paten                                                                                    Rp 10.000.000

b.                Pada awal tahun buku sebuah perusahaan mengeluarkan uang sebesar Rp 3.400.000 untuk memperoleh hak paten. Pada saat memperoleh hak paten, perusahaan tersebut menjurnal :
Paten                                                        Rp 3.400.000
Kas                                                                                    Rp 3.400.000
                    
                                Perhitungan amortisasi tiap tahun :
                            Rp 3.400.000 : 17 = Rp 200.000


                    Tiap akhir tahun jurnal penyesuaian yang dibuat :

                                  Beban Amortisasi                            Rp   200.000
                                          Paten                                                                      Rp  200.000
                           
Goodwill ( di Amerika Serikat ) dapat diamortisasi pada periode tidak lebih dari 40 tahun. Misalnya, goodwill senilai Rp 4.800.000, dibeli tanggal 5 Januari, bulan pertama tahun fiskal. Diputuskan untuk diamortisasikan dalam jangka maksimal yang diizinkan.

Amortisasi tiap tahun = Rp 4.800.000 : 40 = Rp 120.000
Jurnal penyesuaian :

Beban Amortisasi                                          Rp 120.000
              Goodwill                                                                      Rp 120.000                                                                                   


B.   AKTIVA TAK BERWUJUD YANG DAPAT DIIDENTIFIKASIKAN SECARA KHUSUS.
Ø       Paten
Hak paten adalah suatu hak yang diberikan kepad pihak yang menemukan atau menciptakan sesuatu yang baru agar pihak yang menemukan atau menciptakan sesuatu yang baru tersebut dapat memanfaatkan dan mengelolanya selama jangka waktu yang telah ditetapkan dapat selama 17 tahun.
Paten ( patents ), yaitu hak yang diberikan pemerintah ( Direktorat Paten, Departemen Kehakiman ) kepada perusahaan atau seseorang atas suatu penemuan baru.
Dua jenis utama paten adalah paten produk, yang meliputi produk fisik actual, dan paten proses, yang mengatur proses untuk membuat suatu peroduk. Paten memberikan kepada pemegang hak eksklusif untuk menggunakan, membuat dan menjual suatu produk / proses selama periode 20 tahun tanpa campur tangan / pelanggaran dari pihak lain.
Amortisasi paten dapat dihitung atas dasar waktu / dasar unit yang diproduksi dan dapat dikredit langsung ke akun paten. Cara lain adalah mengkredit akun Akumulasi Amortisasi Paten.
Ø       Hak Cipta
Hak cipta ( copy right ), yaitu hak yang diberikan pemerintah kepada perusahaan atau seseorang atas karya-karya tulisan dan seni yang dihasilkan.
Hak cipta adalah suatu hak yang diberikan kepada pihak-pihak yang menciptakan
Hak cipta merupakan hak yang diberikan pemerintah kepada para penulis, pelukis, pemusik dan seniman lain atas kreasi dan ekspresi mereka. Hak cipta diberikan selama umur penciptanya ditambah 50 tahun, dan memberikan kepada pemilik / pewarisnya , hak eksklusif untuk memproduksi ulang dan menjual suatu pekerjaan artistic / yang  dipublikasikan.
Hak cipta tidak dapat diperbarui. Masa manfaat hak cipta lebih pendek dari umur hukumnya ( umur hidup pencipta ditambah 50 tahun ).

Ø       Merek Dagang  dan Nama Dagang.
Merek dagang / nama dagang adalah suatu kata, frase atau symbol yang membedakan / mengidentifikasikan suatu perusahaan / produk tertentu. Umur merek dagang, nama dagang / nama perusahaan dapat tak terbatas namun biaya harus diamortisasikan selama periode yang mendapatkan manfaat yang tidak melebihi 40 tahun.

Ø                  Lease hold
Leasehoid adalah suatu persetujuan kontraktual antara lessor ( pemilik property ) dan lesse ( penyewa property ) yan memberikan hak kepada lesse untuk menggunakan property tertentu yang dimiliki oleh lessor, selama periode waktu tertentu sebagai imbalan atas pembayaran kas yang telah ditetapkan dan pada umumnya secara periodic. Masalah khusus muncul pada situasi berikut :
# Pembayaran di muka Lease
# Pengembangan Leasehdd
# Lease modal.


Ø       Waralaba dan Lisensi
Waralaba ( Franchise ) adalah penjanjian kontraktual di mana pemilik waralaba memberu\ikan hak kepada pemegang waralaba untuk menjual produk / jasa tertentu, untuk mnggunakan merek dagang / nama dagang tertentu / melakukan fungsi – fungsi tertentu biasanya di daerah geografis yang telah ditentukan.

Lisensi adalah hak pengeperasian diperoleh melalui perjanjian dengan unit / lembaga pemerintah. Biaya waralaba / lisensi denagn umur yang terbatas harus diamortisasikan selama periode tidak melebihi 40 tahun.


C. GOODWILL
Goodwill seringkali disebut sebagai aktiva yang paling tak berwujud dari aktiva tak berwujud karena goodwill hanya dapat diidentifikasikan pada bisnis secara keseluruhan.
Ø       Pencatatan Goodwill
1.    Goodwill yang diciptakan secara Internal
Tidak boleh dikapitalisasikan dalam akun, karena pengukuran komponen goodwill terlalu kompleks dan menghubungkan setiap biaya dengan manfaat masa depan sangat sulit.
2.    Goodwill yang Dibeli
Goodwill hanya dicatat jika keseluruhan perusahaan dibeli karena goodwill merupakan suatu penilaian “ going concern “ dan tidak dapat dipisahkan dari perusahaan secara keseluruhan.

Ø       Amortisasi Goodwill
Tiga pendekatan dasar :
1.    Membebankan goodwill dengan segera ke ekuitas pemegang saham.
2.    Mempertahankan goodwill untuk jangka waktu tidak terbatas kecuali terjadi penurunan nilai.
3.    Menamortisasi goodwill selama masa manfaat.

Goodwill tidak boleh langsung dihapus / diamortisasi selama lebih dari 40 tahun. Amortisasikan goodwill harus dihitung dengan menggunakan metode garis lurus kecuali jika metode lainnya dianggap lebih sesuai

Ø       Goodwill Negatif – Badwill.
Goodwill negatif yang disebut secara tidak tepat sebagai bodwill / pembelian bersaing, muncul ketika nilai pasar wajar aktiva yang diperoleh lebih tinggi daripada harga beli sktiva bersangkutan.



D. PENURUNAN NILAI AKTIVA TAK BERWUJUD
Penurunan nilai aktiva jangka panjang juga berlaku untuk aktiva tak berwujud. Aktiva akan dianggap menurun nilainya apabila kejadian / perubahan situasi menunjukan bahw jumlah tercatat / nilai buku aktiva tidak dapat dipulihkan. Kerugian penurunan nilai adalah jumlah nilai buku aktiva melebihi nilai wajar aktiva.
Ø                                                    Aktiva Tak Berwujud yang dapat Diidentifikasikan secara khusus.
Perhitungan kerugian penurunan nilai paten adalah niali tercatat paten dikurangi nilai wajar. Ayat jurnal untuk mencatat kerugian ini adalah :

Kerugian atas penurunan Nilai               xxxx
            Paten                                                          xxxx


Ø                                                    Aktiva Tak Berwujud Jenis Goodwill.
Penurunan niali goodwill melibatkan sekelompoak aktiva bersih. Niali tercatat / nilai buku goodwill yang berhubungkan harus dieliminasi sebelum nilai tercatat aktiva jangka panjang yang menurun dan aktiva tak berwujud yang dapat diidentifikasikan di kurangi hingga wajarnya. Perhitungan kerugian penurunan nilai goodwill adalah Nilai tercatat dikurangi nilai wajar. Ayat hurnal untuk mencatat panurunan nilai goodwill adalah :

Kerugian atas penurunan nilai                    xxxx
            Goodwill                                                          xxxx

 E. BIAYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN (R & D)    
Semua biaya penelitian dan pengembangan harus dibebankan ke beban pada saat terjadinya.
Ø       Mengidentifikasikan aktivitas penelitian dan pengembangan.
Ø       Akuntansi untuk aktivitas penelitian dan pengembangan.
Biaya yang berkaitan dengan aktivitas R & D dan perlakuan akuntansi terhadap biaya yersebut adalah sebagai berikut ;
1.    Bahan, peralatan, dan fasilitas catat keseluruhan beban sebagai biaya, kecuali jika pos – pos itu memiliki kegunaaan alternatif di nasa depan. Kemudian catatlah sebagai persedian dan dialokadikan ketika dikosumsi dan disusutkan ketika digunakan.
2.    Personil. Gaji, upah, dan biaya lainnya yang berhubungn dengan personil yang terlibat dalam R & D harus dibebankan ketika terjadi.
3.    Akitva tak berwujud yang dibeli. Catat keseluruhan biaya sebagai beban, kecuali jika pos – pos itu memiliki kegunaan alternatif di nasa depan, kemudian kapitalisasi dan diamortisasikan.
4.    Jasa kontrak. Biaya jasa yang dilakukan harus dibebankan ketika terjadi.
5.    Biaya tak langsung. Alokasi yang tepat atas biaya tak langsung harus termasuk dalam biaya R & D, kecuali untuk biaya administratif dan umum, yang secara jelas haus berhungan agar dapat dimasukkan dan dicatat sebagai beban.

Ø                                                    Biaya – biaya lain yang serupa dengan biaya R & D.
1.    Biaya Start – up
Biaya start – up dikeluarkan dalam suatu kali aktivitas untuk memulai operasi baru. Biaya start – up termasuk biaya organisasional yaitu biaya yang dikeluarkan untuk mengorganisasikan entitas baru. Biaya start – up bersifat langsung: bebankan biaya start – up ketika dikeluarkan.
2.    Kerugian operasi awal.
3.    Biaya iklan.
Biaya iklan harus dibebankan ketika dikeluarkan / pertama kali iklan dimuat.
4.    Biaya perangkat lunak komputer.


F. PENYAJIAN POS-POS TAK BERWUJUD DAN YANG BERHUBUNGAN.   
Ø       Aktiva Tak Berwujud
Pelaporan aktiva tak berwujud berbeda dengan pelaporan property, pabrik dan peralatan dalam akun kontra yang biasanya ditunjukan.
Ø                                                    Biaya penelitian dan pengembangan ( R & D ).
Pengungkapan harus dibuat dalam laporan keuangan mengenai total biaya R & D yang dibebankan ke beban setiap periode di mana laporan laba-rugi disajikan.
Ø       Aktiva lainnya.
Disebut sebagai beban yang di tangguhkan.
             

       G. PENGHENTIAN ( RETIREMENT ) DAN PELEPASAN
Suatu aktiva tidak berwujud tidak boleh lagi diakui, dan harus dihilangkan dari neraca, saat aktiva tersebut dilepas atau ketika ta ada lagi manfaat masa depan yang diharapkan dari penggunaannya atau pelepasan yang dilakukan sesudahnya.
Keuntungan atau kerugian yang timbeul dari penghentian atau pelepasan suatu aktiva tidak berwujud ditentukan dengan menghitung selisih antara jumlah penerimaan bersih dari pelepasan aktiva den nilai tercatat aktiva tersebut, serta diakui sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi.










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar